MUKADIMAH

NASKAH Proklamasi Kemerdekaan kita tidak disusun dan diproklamirkan oleh pemuda dan pemudi yang sedang mabuk. Tetapi oleh para pejuang , pemikir yang sehat dan bertanggung-jawab atas bangsanya.

Dalam tutur bahasa kesenian, seorang penyair menggambarkan sebagai berikut: Serumpun bambu bertahan dalam badai, mereka bak manusia yang ulet, mengatasi kesukaran serumpun bangsa, sentosa, tegak, dan mengolah kerja, sehingga mampu mengubah jurang menjadi panorama yang indah. Mereka tanpa obat, tanpa candu, dan emoh narkoba.

Andaikan rumpun bangsa kita ini seideal syair tadi, tentunya bangsa kita sudah jaya sejak dulu. Dari Sabang sampai Merauke, mereka membangun jembatan hati, dari pulau ke pulau, merajut budaya, kesenian, tradisi, dan agama, menjadi rukun dan toleran satu sama lain.

Kini bumi Indonesia penuh ancaman narkoba. Setiap hari konon berjatuhan 40 orang mati karenanya, sedang jutaan generasi muda lainnya dalam kesakitan dan dalam cengkeramannya.

Maka, saatnya kini kita proklamirkan lagi, sebuah Gerakan Kebangsaan Perang Melawan Narkoba, dan gerakan ini bukan dilakukan oleh pemuda bangsa yang tengah mabuk. Allah SWT Maha Tahu.

Untuk itu kita mohon bimbinganNya.

H.HARDI

Ketua Umum

Wednesday, November 14, 2007

Ditangkap lagi saat pesta narkoba

Kapolri sesalkan Roy Marten

KAPOLRI Jenderal Sutanto sangat menyesalkan Roy Marten yang kedapatan masih menggunakan narkoba. Apalagi artis tersebut tertangkap tangan tidak lama setelah berkampanye anti narkoba bersama Badan Narkotika Nasional (BNN).

"Tentunya kita mengharapkan yang bersangkutan sadar," kata Jendral Sutanto usai menghadiri pembekalan konsolidasi pemerintah daerah di Istana Negara, JL Veteran, Jakarta, Selasa (13/11).

Kapolri menambahkan, meski Roy Marten merupakan juru kamapnye BNN, tidak ada keistimewaan apapun. Menurutnya, proses hukum terus berjalan layaknya pesakitan narkoba lainnya. "Tidak peduli siapa orangnya. Tentu proses hukum akan kita terapkan sesuai prosedur hukum yang ada," tegas Kapolri.

Roy Marten kedapatan mengkonsumsi psikotropika jenis sabu-sabu setelah pesta narkoba di salah satu hotel di Surabaya. Bintang film senior era tahun 1970-an itu sigrebeg Selasa pagi, saat menghadiri "pesta" narkoba di salahsatu kamar hotel Novotel Hotel di Jalan Ngagel, Surabaya.

"Ada masyarakat yang melapor bahwa pak Roy dan empat rekannya `pesta` sabu-sabu (SS)," kata Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya (Polwiltabes) Surabaya, Kombes Pol Anang Iskandar.

Satuan Reserse Narkoba (Reskoba) Polwiltabes Surabaya menangkap Roy bersama empat rekannya pada Selasa (13/11) sekitar pukul 08.00 WIB. Mereka adalah Fredy Matatula dari Jalan Peneleh, Surabaya, Roy Hartanto alias Hong Kho Hay dari Jalan Kapasan, Surabaya, Didit Kesit Cahyadi dari Jalan Tempel Sukorejo, Surabaya dan seorang wanita bernama Winda dari perumahan Rewwin."

Saat digeledah di Hotel Novotel kamar 465 itu, petugas menemukan 1,5 ons shabu-shabu di laci meja, bong (alat hisap), alumunium foil, timbangan, HP, dan korek api. Selain itu, hasil tes menunjukkan kelima orang itu positif menggunakan narkoba. Shabu shabu yang dipakai Roy dikirim dari LP Cipinang melalui perantara Didit. Roy sendiri mengaku mengenal empat pelaku lainnya, karena pernah sama-sama mendekam di LP Cipinang dalam kasus narkoba," demikian kata Anang Iskandar.

Digambarkan, "pesta" narkoba dan pertemuan di Surabaya itu mirip "reuni" sesama penghuni LP Cipinang yang pernah ditangkap Polresta Jakarta Selatan.

Roy yang mengenakan celana biru tua dan baju putih bergaris lengan panjang, terlihat tanpa beban dan sering tertawa sambil menikmati es jus alpukat. Bahkan beberapa penyidik mengajaknya foto bersama. Lain halnya dengan ke-empat rekannya yang ditempatkan dalam ruangan sempit dengan borgol dan baju tahanan warna merah.

"Dia (Roy) akan kami tahan di sini," kata Kasat Reskoba Polwiltabes Surabaya, AKBP Abi Darrin, didampingi Kabag Bina Mitra Polwiltabes Surabaya, AKBP Sri Setyo Rahayu.

Sebelum ditangkap, Roy menghadiri kampanye penanggulangan penggunaan narkoba di gedung Graha Pena Surabaya yang dihadiri Kapolri Jenderal Pol Sutanto dan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol I Made Mangku Pastika.

Dalam acara itu, Roy memberikan testimoni kasus narkoba yang pernah dialami hingga akhirnya dipenjara di LP Cipinang. Bahkan Roy sempat mengusulkan kepada Kapolri, agar korban narkoba tidak diperlakukan sama dengan pengedar. Hukuman yang sama antara pelaku dan pengedar tidak adil, karena pemakai merupakan korban, protesnya. (dimas)

Friday, October 26, 2007

Roy Marten Ceramah Antinarkoba

PENGALAMAN merasakan sembilan bulan di penjara, karena kasus narkoba, membuat aktor senior, Roy Marten, aktif dalam penyuluhan pencegahan narkoba. Aktivitas ini dia jalankan dengan harapan agar orang lain tidak merasakan apa yang pernah ia alami.

''Saya ini contoh kongkret. Saya adalah almuni Uncip yakni Universitas Cipinang,'' ujar pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 1 April 1952, ketika berbicara di depan 2.000 prajurit TNI AD di Jakarta, Rabu (24/10).


Cipinang yang dimaksud suami artis Anna Maria itu adalah Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur, tempat dia menjalani hukuman sebelum akhirnya ia menghirup udara bebas pada 1 Oktober 2006. ''Slogan bahwa narkoba merusak generasi muda itu harus diubah menjadi narkoba rusak seluruh bangsa,'' katanya lagi.

Pesohor yang melejit lewat film Cintaku di Kampus Biru itu tidak canggung-canggung berbicara bahaya narkoba di depan ribuan prajurit TNI. Ia mengaku gembira diundang sebagai pembicara oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), padahal pada Februari 2006 lalu, Satgas BNN pula yang menangkapnya di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan, karena menyimpan 4,2 gram shabu.

Ayah dari pesinetron Gading Martin itu juga bercerita pengalaman pribadinya saat mengonsumsi shabu, yakni aktivitasnya menjadi giat dan sering berhalusinasi. ''Yang belum pernah pakai (shabu), jangan pernah pakai. Kalau pakai, maka akan ada dua pilihan, yakni pertama ditangkap polisi kayak saya dan kedua adalah rusak mata pencaharian,'' paparnya. (Ant)

Thursday, October 25, 2007

Alexandra Asmasoebrata keukeuh Musuhi Narkoba

JAKARTA - Sosok Alexandra Asmasoebrata alias Andra, cukup dikenal. Satu-satunya pembalap muda wanita di Indonesia ini keukeuh bermusuhan dengan narkoba demi menoreh prestasi gemilang.

"Aku senang bisa mengampanyekan narkoba. Ini sebagai contoh berprestasi dengan tidak menggunakan narkoba. Aku jauhi narkoba karena harus fokus di balap. Kalau aku menggunakan narkoba, bisa terganggu," ungkap Andra yang ditemui di acara "Penyuluhan Akbar Sadar Narkoba dalam Upaya Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba", di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (24/10/2007).

Andra yang didaulat sebagai Duta Narkoba sejak 10 Oktober 2007, kepada okezone menuturkan, tugas sebagai duta cukup berat dan menjadi beban.

"Meski beban, aku senang karena ini tugas baru buat aku. Aku tidak tertarik narkoba karena bikin susah dan merusak karier. Untuk menjaga kesehatan aku tidak pakai narkoba, tapi cukup istirahat rutin," jelasnya. (okezone.com)

Tuesday, October 23, 2007




Polri Bongkar Pabrik Shabu 454 Miliar di Batam



JAJARAN Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengungkap pabrik ekstasi skala besar di empat lokasi Kota Batam yang melibatkan dua tersangka berkebangsaan Taiwan dengan nilai produk sekitar Rp 454 miliar dalam operasi Sabtu (20/10) malam.

Kepada wartawan di Bandara Hang Nadim, Batam, Senin malam, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto, menyatakan keberhasilan ini berkat kerjasama Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), kepolisian internasional, serta perwakilan "Drug Enforcement Administration" (DEA) Singapura, DEA Hong Kong, DEA Taiwan, DEA Australia dan DEA Amerika Serikat.

"Dari pengembangan kasus, tadi pagi di Pluit, Muara Karang, Jakarta, kepolisian menggerebek satu tempat dan menangkap tersangka Awi dengan barang bukti 40 kg shabu (35 kg+5 kg cair) yang berasal dari sini," katanya.

Di Batam, selain menemukan barang bukti berupa peralatan dalam 150 galon/568 liter cairan methamphetamine (shabu kristal) senilai Rp 454 miliar, kepolisian menangkap dua warga negara Taiwan, yakni Wang Chin I, Tsai Tsai Cheng serta empat WNI yakni Jaelani Usman, Darwin Silaban, Syaed Abubakar, dan Apeng.”Kasus ini membuktikan, kejahatan narkotika selalu melibatkan beberapa sindikat dari beberapa negara, “ kata Kapolri.

Diungkapkan, selain untuk memasok pasar dalam negeri, shabu-shabu buatan Batam juga untuk memasok China daratan dan Taiwan, kata Kapolri, didampingi Kepala Pelaksana Harian BNN Made Mangku Pastika, Kapolda Kepulauan Riau (Kepri) Brigjen Pol Sutarman, Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, Ketua Otorita Batam Mustofa Wijaya serta Walikota Batam Ahmad Dahlan.

Lokasi I pabrik ekstasi di Batam berada di Kompleks Pergudangan Taman Niaga Blok E No 3 Kawasan Industri Panbil Muka Kuning. Di tempat itu, kepolisian menemukan 990 galon aceton di dalam 14 drum @ 200 liter, hydro chlorid acid 613 galon, 1.000 galon chloroform, 800 kg sodium hydroxide, 75 kg trichlorida isocyanuric acid, 350 kg garam, 1.000 kg bubuk bahan kimia yang belum diketahui jenisnya, 330 galon cairan kimia yang jenisnya masih disidik, serta beberapa peralatan pemroses.

Di lokasi tersebut, merupakan pabrik pemroses prekusor menjadi shabu cair untuk kemudian di bawa ke lokasi II, di gudang penyimpanan hasil proses pertama "clandestine laboratory" Taman Duta Mas, Cluster II No 57, Batam Centre.

Di lokasi II, kepolisian menemukan barang bukti dua kompor gas. Sedangkan di lokasi III, Kompleks Pertokoan Hop Seng, Blok C-8 Batam Centre, dijadikan tempat pengolahan akhir (shabu cair jadi crystal).

Di sini, kepolisian menyita barang bukti antara lain cairan methamphetamine alias shabu sebanyak 150 galon atau setara dengan 568 kg "ice crystal" senilai Rp 454 miliar (440 juta USD) dengan harga pasar Rp 9.000/ gram, 34,5 kg barium sulfat, 32 kg garam, 21,5 kg sodium hidroxide, serta 35 galon hydroclrolic acid.Kepolisian, di ruko itu, juga menemukan satu mobil Mitsuhibishi Chariot Grandis hijau Nopol BM 2224 XD dan Mercedes Benz hitam nopol BM 1214 XL. Sedangkan di lokasi IV, di Kawasan Berikat Blok C No 5 Hijrah Karya Mandiri Industrial Estate, Batam Centre, dijadikan tempat pengeringan dan proses memasak dengan mesin. Pengeringan dengan mesin memerlukan enam hari.

Bahan-bahan bakunya sebagian berasal dari Taiwan, dikirim ke Batam melalui kapal nelayan di perairan Indonesia.Penemuan pabrik gelap shabu-shabu itu mengejutkan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah yang seperti aparat pemerintah dan masyarakat di Batam tidak menduga ada pabrik psikotropika di pusat-pusat bisnis dan keramaian."Ini memprihatinkan karena bisa menurunkan citra Batam, tetapi sekaligus menggembirakan sebab kini aparat berhasil mengungkap," kata Ismeth.

Gubernur, seperti juga Kapolri, mengajak semua lapisan masyarakat di seluruh Kepri agar bersama aparat mewaspadai orang-orang di lingkungan."Bagi pemilik bangunan, hendaklah membuat perjanjian kepada penyewa untuk tidak menggunakan tempat untuk kegiatan-kegiatan ilegal," katanya Ismeth.Blok C-8 di Kompleks Ruko Hop Seng yang menjadi salah satu pabrik shabu, berada sekitar 400 meter dengan Markas Polda Kepri, Kantor Otorita Batam, serta Kantor Walikota Batam dan Gedung DPRD Kota Batam.

Ketua RT 002/RW013 Kelurahan Teluk Tering, Kecamatan Batam Kota, Novri Eka Rinaldi mengatakan, tidak menyangka dan menjadi kaget ketika Senin siang dikabari Direskrim Polda Kepri Kombes Basari Panjaitan bahwa rumah di Blok C-8 tersangkut kasus pabrik shabu terbesar di Asia.

SATU TINGKAT DI BAWAH

Menurut Direktur Narkotika Mabes Polri Brigjen Pol Indradi Thanos, sementara ini kasus itu satu tingkat di bawah kasus pabrik ekstasi di Cikande (2005), Serang, Banten, yang nilainya sekitar Rp 1 triliun dan terungkap berkat kerjasama yang erat dan informasi dari DEA.Operasi di Batam dipimpin Jenderal Bambang Hendarso, katanya. "Tim dua minggu mengamati sasaran, setelah bersama mitra DEA menyusun taktik," katanya

Direktur Narkotika Mabes Polri mengatakan, sindikat di Batam sejauh ini belum ada kaitan dengan sindikat di Cikande, dan ke China daratan dan Taiwan baru bersifat membawa contoh. Menurut Kepala DEA Singapura Russel Holske, pengungkapan kasus di Batam merupakan salah satu yang terbesar BNN. (masdimas)

Wednesday, May 23, 2007

NIDIA NIEKMASARI

Event manager yang betah di SIAN

DENGAN latar belakang sebagai penyelenggara acara atau popular dengan event organizer yang berpengelaman, Nidia Niekmasari Ichsan, 34, menempati posisi sebagai Bendarahara Umum di LSM Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN). Pilihan yang tepat, karena EO merupakan wanita yang lincah dan kenyang dengan berbagai kegiatan yang berimbas pada pendanaan.

“Saya orangnya bosenan, tapi setelah ketemu Mas Hardi saya betah di sini, “ kata wanita kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, 8 Desember 1973. Posisinya di hotel hingga public relation manager di sebuah hotel berbintang ditinggalkannya, setelah bergelut di sana 4 tahun, 1996-1999.

Dia sempat ke Malaysia, kerja di perusahaan software terkemuka di negeri jiran itu. Sempat pula mendalami trading di Singapura, menjual alat berat ke perusahaan-perusahaan minyak internasional.

Berbagai proyek event dikerjakannnya, bekerjasama dengan pemerintah daerah dan swasta, seperti Ulang Tahun Kota Surabaya ke 712, Hari Pahlawan 2005. Debutnya dimulai dengan jarum Super Brazilian Star, tahun 2003 di 10 kota di Jawa Timur. “Saya mencintai sepakbola, karena yang main bukan hanya pemainnya, tapi penontonnya juga main, “ katanya.

Diungkapkan, penyelenggaraan proyek kegiatan acara dengan pemerintah dimulai karena kepercayaan dan profesionalitasnya. Diungkapkan, saat masih sering mengerjakan event dengan swasta dia kenal dengan orang pemda untuk mengurus perijinan dan keamanan. “Dengan cara begitu, saya dikenal dan orang pemda percaya, “ kata sarjana Ekonomi jurusan Manajemen Pemasaran Univeritas Surabaya, 1998.

Nidia sudah bekerja saat kuliahnya belum selesai, bahkan studynya sempat terhambat. “Saya telat lulusnya, karena banyaknya waktu itu sudah kerja di hotel, “ kata wanita yang berkarir di hotel Westine dari bagian front office ini.

“EO itu penting. Setiap jengkal perusahaan selalu membutuhkan event organizer atau lebih tepat event manajemen, “ katanya.

Tentang suka duka sebagai penyelenggara acara, Nidia bertutur, “EO itu kalau kerjanya bagus nggak dipuji, kalau jelek dimaki, kalau rugi nomboki, “ katanya. Tapi dengan pengalamannnya menyelelenggarakan puluhan event besar, baru satu event saja yang harus nomboki. “Satu tapi sampai ratusan juta, “ katanya, mengenangkan.

Dengan SIAN kini sedang mengerjakan proyek peringatan HANI (Hari Anti Narkoba Internasional) dengan sejumlah acara, seperti Pentas Musik Akbar di Ancol, Pameran Lukisan di Hotel Nikko, dll, yang bertemakan fight against drugs.


Ellawijt pameran lukisan di Museum Nasional

SEORANG pelukis belia tampil mengesankan dengan memamerkan puluhan karyanya di Meseum Nasional atau Meseum Gajah di Jl. Merdeka Barat, Jakarta Pusat, 19-29 Mei 2007 ini. Pameran bertajuk "It's just been started!" (Ini baru mulai), banyak mengeksplor buah-buahan dan lukisan realismenya, dalam ukuran besar-besar. Ketua SIAN, H. Hardi, menandai pembukaan yang berlangsung meriah dan khas ABG ini. "Saya melihat Ella pelukis muda yang kreatif, produktif, dan anti narkoba!" katanya.

Pameran yang sekaligus menandai usia 17 Ellawijt menjadi penanda beta remaja berkarya cipta membanggakan juga tak kurang-kurang. Dia menjadi Sherina Munaf di bidang lain, sosok remaja, kalangan menengah atas, yang berkarya mengesankan, melebihi rekan-rekan seusianya.

Terlahir dengan nama Manuella Wijayanti, Ellawijt merupakan nama gabungan dan populernya. Terlahir 8 Mei 1990, kini masih duduk di klas 2 IPA SMU Saint Peter. Ellawitj merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara, dari pasangan Djohan dan Diah Pangestuti W.Ella punya saudara kembar.

Sejak kecil mengaku suka menggambar di atas kertas yang disediakan orangtuanya, kadang keisengannya meningkat sampai ke dinding, sampai-sampai lipstik ibunya pun jadi korban.
Sadar bakat anaknya yang luar biasa, orangtuanya memfasilitasi segala keperluannya, bahkan mendatangkan guru-guru lukis profesional. Seperti Mozes Misdy, juga dukungan dari seniman besar, seperti Jeihan. Dan Ella bukan tipe remaja pembosan, seperti rekannya. Dia terus menekuni hobbynya dan berkarya terus hingga kini.

Sejak 2005 lalu, karya-karya Ellawijt sudah masuk ke pameran bergengsi, antara lain pameran bersama "Pesona Melonia XXX Day of Glory di Sahid Jaya Hotel, 2-8 Agustus 2005 lalu. Pameran "Bersama Indonesian Art I" di Hotel Crowne Plaza, 3-11 Oktober 2006. Pameran lukisan bersama Karya Prajurit ke-20 di WTC, 3-17 November 2006, dan Pameran bersama "Indonesian Art II" lagi-lagi di Hotel Crown Plaza, 16-22 Desember 2006 lalu.

Dengan demikian, pameran di Meseum Nasional kali ini merupakan lukisan tunggal perdananya."Sangat membanggakan, melihat prestasi remaja yang begini hebat, di tengah generasi muda yang sebagiannya sedang terancam narkoba. Sangat membanggakan!" komentar Hardi, Ketua SIAN.

Monday, May 7, 2007

Wajah sinetron di panti rehabilitasi narkoba

KUNJUNGAN ke panti rehabilitasi narkoba yang banyak dihuni para remaja sebagai korbannya, mengejutkan seniman pelukis H. Hardi. “Saya melihat wajah-wajah remaja yang kayak pemain sinetron, laki-laki perempuan, cakep-cakep, jadi korban narkoba, “ katanya. “Saya sangat terpukul. Sebagai orangtua dari 3 anak yang sedang remaja, saya takut bukan main. Seandainya anak saya yang kena bagaimana?” katanya.

Pelukis asal Blitar – Jawa Timur, kelahiran 1951, ini menyatakan, kunjungan itu mengganggu pikirannya dari hari ke hari. “Sukses orangtua dalam mengumpulkan harta, membangun karir dan bisnis, tak ada gunanya kalau kita mendapati anak kita seperti itu, “ katanya. Karena itu, dia mau mengetuai LSM Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN) dengan semangat itu. “Saya siap perang untuk membrantas narkoba, “ tekadnya.

Menghimpun teman-temannya sesama seniman, H. Hardi gigih berkampanye. Hari-hari ini, misalnya, dia sibuk menyiapkan pameran lukisan menyambut Hari Anti Narkoba (HANI) 2007 di Hotel Nikko, Jakarta. “Yang dipamerkan bukan lukisan kembang atau pemandangan alam, tapi masyarakat yang dikuasai narkoba, “ katanya. Itu dijadikan peringatan betapa bahayanya narkoba.

“Memang ada desain besar untuk merusak generasi kita agar terus bodoh dan malas. Antara lain dengan penyebaran narkoba. Sebagai orangtua kita mesti menyadari, “ katanya, prihatin. (dimas).